Senin, 22 Agustus 2011

kumpulan puisi

Pohon pohon membisu
Pena kertas pun membisu
Kasih, ku selalu merindumu
rasa kesepian samar membayang seribu
Deru angin semakin
Laraku bak gerimis itu
membasahi memenuhi tiap dahan dan daun daun

Terimakasih

by sintadiana on August 20, 2011
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.50 out of 5)
Ku lihat wajahmu
Ada tangisan di mata itu
Layaknya pagi pertama di musim semi
Begitu cantik begitu pucat

Isakan tangismu bisa kudengar
Getaran ketakutanmu mampu ku rasakan
Walaupun kau berkata semua akan baik-baik saja, aku tahu
Ini begitu berat bagimu

Apakah kau mendengarkan kata-kataku
Bisakah kau merasakan perasaanku
Ketika jarak yang memisahkan kita adalah nol
Ku ingin kau tahu
Aku bahagia kau membawaku ke dalam hidupmu

Makhluk seperti diriku ini
Terimakasih banyak telah mencintaiku
Walau takdir pertemuan kita begitu singkat
Aku tidak pernah menyesalinya

Aku mencintaimu, aku akan mencintaimu selamanya
Aku akan mengingatmu selamanya
Sampai kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya
Aku tidak akan pernah melupakanmu

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 3.00 out of 5)
Semua berawal dari sebuah frasa
Ketika sebuah canda mengukir senyum
Frasa itu datang menulis sebuah cerita
Yang mengalir dalam sungai kehidupan
Tak banyak berjudul namun entah bermakna
Frasa itu datang dari beda
Bila aku pria maka dia wanita
Sungguh pertama takutku menyakiti
Seakan langkahku menghantui
Dirinya yang selalu saja ada
Senyumnya yang selalu mempesona
Frasa itu mulai membebani
Ketika hidup ini tak berhenti mengalir
Permasalahan lain mulai saling berganti
Sementara frasa ini mulai memenuhi
Hingga pada akhir sadar kejamku
Sang pengecut mulai berlari darimu
Itulah aku dengan segala rendahku
Kuharap dia yang baru
Yang selalu mengharapkanmu
Meski aku lebih dulu
Namun dia selalu menatapmu
Tak seperti aku yang menciut selalu
Dia sahabatku mungkin yang terbaik untukmu
Meski frasa ini tetap ada padaku
Kuharap ceritamu berakhir bahagia dengannya
Wahai sahabatku kukorbankan frasa ini untukmu
Bahagialah pada akhir ceritaku yang sendu

Hitamku

by omegachaos on August 20, 2011
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Hujan hitam hanya untukku
Deras dan mengikis seluruh pigmen kulitku
Tiada sakit menusuk nadiku
Hanya hampa mata ini menatap langit

Berjatuhan segala ungkap rasa
Hujan hitam menembus sayap-sayap kertas
Menghapus memori menghilangkan duka
Segala bukti adanya cinta
Berlalu dalam genangan-genangan hitam kelam

Tiada kini yang tersisa
Hanya kata sebatas kata
Tiada terjalin kata-kata
Sebaris kata yang tak bermakna
Kupastikan semua tiada lagi di udara
Menatap sisa-sisa puing rasa

Lalu kini berlalu
Tiada lagi mengarang hitam
Bermaksud mengubar rasa dalam hitam
Tiada lagi…..
Hanya hitamku takkan pergi
Tak mengapa tiada yang mengerti
Hitam ini tak nampak pasti
Hanya sebuah perubahan daki
Dan mereka hanya menganggapku hitam
Sedari dulu hingga kini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Awal….
Berkhayal sebuah keindahan
Langkah menyusuri arung waktu
Bersahut dengan debur ombak
Tenang dalam hidup
Tak tergoyahkan si kelabu

Bertemu….
Sosok sendu senja sore
Ketika surya hendak membunuh hari
Terbias cahaya
Mengaliri air mata
Tak bersalah jatuh
Tak melawan sang bumi

Berakhir….
Keindahan sesaat sungguh
Hanya asa terputus
Keberadaan diri sang saksi
Mengawasi berakhirnya takdir
Membisu ketika menderu sang ombak
Menelan bulat hati yang gundah
Hilang sempat sang waktu tua
Untuk indah esok dan lusa

Sampai jumpa nona
Sang kelabu kan menemani
Mungkin esok entah lusa
Kini debur ombak berlanjut
Tak pernah asa terputus
Tak tergoyahkan sang kelabu
Hingga waktu tak menyangga lagi
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
sebentar lagi ramadhan, dan aku membenciMu.
call me stupid.
call me lost.
jika dunia ini adalah sebuah permainan yang Engkau ciptakan
dengan manusia sebagai para pemainnya
lalu mengapa aku merasa dipermainkan?
Engkau ciptakan sebuah pertunjukan drama manusia bagi kesendirianMu yang membosankan. agar lebih mengasyikkan untuk Engkau tonton, Engkau beri padaku pilihan-pilihan sulit serba dilematis berikut konsekuensi dan pengorbanan yang tidak pernah adil kurasakan.
lalu Engkau melihatku jungkir-balik, jatuh-bangun, terhempas dan terbentur dan tersungkur.
apa yang Engkau rasakan ketika melihatku kesakitan?
apakah Engkau tertawa saat melihat si bodoh ini kebingungan?
apakah Engkau tegang ketika aku mati-matian berjuang?
apa pendapatmu ketika aku merendahkan diriku dengan menjilat pantat orang?
sudahkah Engkau menangis melihatku? tertawa? marah? benci?
apakah Engkau sudah terhibur oleh sandiwara ciptaanMu? puas?
cause I’m not. cause I feel used. aku merasa dipermainkan.
mengapa Engkau duduk dan menonton?
Engkau hanya menonton, tapi tidak berani untuk menjalaninya.
mengapa tidak Engkau saja yang jadi manusia?
tidak, Engkau terlalu penakut untuk jadi manusia.
Engkau ciptakan aku untuk membuktikan bahwa Engkau Maha Pencipta.
Bahwa manusia adalah makhluk ciptaanMu yang paling sempurna.
demi kepengtinganMu itu kah aku Engkau ciptakan?
bagaimana dengan aku? keinginanku?
Engkau egois.
jika Engkau bisa berbuat apa saja, mengapa Engkau tidak bisa membuat ciptaanMu ini bahagia? jika benar Engkau mencintai ciptaanMu, mengapa Engkau buat aku menderita? itukah ungkapan cinta, jika yang bisa Engkau lakukan hanyalah menyiksa? sedang Engkau bisa berbuat apa saja. sedang Engkau bisa berbuat apa saja. sedang Engkau bisa berbuat apa saja.
buktikan bahwa Engkau mencintaiku
karena aku tidak pernah minta untuk diciptakan
karena aku tidak pernah minta untuk dilahirkan
justru Engkau lah yang memaksaku untuk lahir
segala perasaan bersumber dari penderitaan dan Engkau sendiri tidak pernah menderita. Engkau telah mempunyai semuanya sejak Engkau ada. Engkau hanyalah anak kecil yang manja, dengan merengek ‘kun fayakun’, maka semua keinginanMu dengan gampang terpenuhi. tapi pada akhirnya, memiliki segalanya justru membuatMu merasa hampa. memang pada akhirnya, memiliki segalanya justru membuatMu merasa hampa.
Engkau tidak bisa merasa betapa bahagianya seorang ibu mendengar anaknya bicara ‘mama’ untuk pertama kalinya. Engkau tidak bisa merasakan betapa besar perjuangan seorang suami untuk menghidupi keluarganya. Engkau tidak bisa merasakan betapa sakitnya seorang pemuda yang ditolak cintanya oleh gadis pujaannya. Engkau tidak bisa merasakan apa yang dibenak seorang ibu yang harus mencuri susu untuk bayinya dan mencuri baju untuk anaknya. Engkau tidak bisa merasakan seperti apa rasanya dicium wanita untuk pertama kalinya. Apakah Engkau bisa merasakan rasa kehilangan seorang anak manusia yang ditinggal mati sahabatnya?
sebelum Engkau ciptakan manusia, Engkau tidak bisa merasakan itu semua.
secuilpun.
ya, Engkau ciptakan manusia karena Engkau tidak bisa merasakan apapun. Karena Engkau bisa berbuat apa saja, Engkau ciptakan manusia untuk mengajariMu apa itu rasa sakit, kebahagiaan, penderitaan, sekaligus kesedihan. mengajariMu tentang perasaan. Engkau tidak ingin manusia merasa kosong seperti diriMu. justru itulah yang membuatMu tidak memberi manusia semua yang mereka inginkan. agar mereka menderita sehingga mereka mempunyai perasaan. karena perasaanlah yang membuat manusia menjadi sempurna. aku menderita maka aku selamat. aku menderita maka aku sempurna. dan dalam penderitaanku, aku mau tidak mau harus terus berjuang. berjuang untuk tetap hidup, meski hidupku pun akan tetap menderita. itukah aturan main yang Engkau buat untukku yang mau tidak mau harus kujalani? cukup adilkah itu bagiMu? mengapa tidak Engkau saja yang menjalaninya? Engkau pengecut.
lalu di akherat, apakah Engkau akan mengiming-imingiku dengan surgaMu?
sebagai sogokan agar aku tidak protes karena telah Engkau jebloskan aku ke dunia dengan semena-mena? atau sebagai upah karena telah memberiMu sebuah tontonan yang menarik dan membuatMu puas? atau apakah Engkau akan menghukumku dengan siksaan nerakaMu karena aku telah bermain buruk dalam sandiwara ciptaanMu? FUCK YOU!
dan selama Engkau masih ada, manusia tidak pernah salah.
Engkau lah yang salah karena menciptakan Soeharto, Pol Pot, Hitler, Firaun, dan semua penjahat-penjahat itu. bagaimana pula Engkau akan menyalahkan mereka sedang Engkaulah yang menciptakannya, sedang mereka sendiripun tidak pernah minta untuk dilahirkan.
manusia baru bisa disalahkan ketika Engkau tidak ada.
mungkin aku harus belajar untuk memaafkanMu. meski itu berat. sangat berat.

Rindumu Sesaat

by derry on June 3, 2011
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (59 votes, average: 3.81 out of 5)
Kebisuan ini menjadi naif seraya pasrah seperti alang..
kurasakan bidadari hati yang kelabu, menahan lirih seribu rindu..
jantung memang berdebar cepat, membuatku tak terkendali.. suara itu menusuk tepat di sanubari, terus berirama tiada henti..
ah, tapi aku tersadar ini hanya seperti bunga, bunga yang terlupa..
siapa yang tau? ini hanya dusta belaka, hanya aku terlalu meminta,.
so, bidadari hatiku yang kelabu terbanglah dengan sayapmu yang terbakar, kulepas harapku, kubuang jauh untuk melupakanmu..
aku tau, rindumu untukku hanya sesaat..
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (22 votes, average: 4.41 out of 5)
ku jamah tabir yang tersirat di ubun, terpecah hening berkarat biru..
kurobek sisa kisah yg berlalu, terbesit hati saat teriris..
kutanya api yg membara, terpaksakan naluri meramah hati..
kugenggam angin yang mendesir, kupatahkan semua tentangmu..
kutemui akhirnya kisah ini ..
” ketika aku bagimu, ketika aku untukmu.. bagai lidah tak berludah bersua lemah semu merindu..
memang sejenak menyentuh kalbu, sedetik bertapak pilu, rayu membelenggu tetap saja remukan dada..
bahkan ketika lelap berkerumun datang lalu pergi biarkan saja sepi tetap abadi..
hanya sadari mata berkaca, tidak perduli pun aku sanggup.. hanya menunggu kau sakiti ternyata arang tak lagi hitam..
sampai tiba kabut hinggap meresap tubuh, layu pilu karena tak tau aku yang selalu seperti bagimu, dan cerita ini tetap seperti itu.. ”
lama waktu.. mencari hati yg terbagi, terhempaskan deru ombak membelai belahan jiwa, yg telah lama hilang..
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 3.95 out of 5)
Kawan lama bercanda tawa
Terbahak terlihat gila
Bau alkohol menyelimuti udara
Tapi lawannya tak pula berat menerima
Ia sudah lama bersama
Terbagi rata bagi semua
Lima puluh dua untuk bertiga
Seratus empat untuk berlima
Begitu seterusnya
Namun kawanku tak mau
Semua hanya untuknya
Kini hanya ada lima puluh tiga
Ia dan mereka yang terkemas bersama
Mempercayakan nasib dari buatan manusia
Kawanku telah tersadar lama
Namun mereka itu candu
Kurang satu gemuruh membatu
Kini mereka hanya berbicara
Dengan berbagai hilang rasa
Dengan setumpuk temannya
Lima puluh dua yang telah setia
Dengan bertumpuk kalah
Ia berlumur darah
Kawannya hanya diam membisu
Sedang kawanku telah berlalu
Ke tempat itu
Dimana maaf selalu dinanti
Dimana lelah selalu dinanti
Dimana sesal selalu datang silih berganti
Tapi persahabatan itu tak berlalu
Berjuta turun berganti
Kawan lama ku telah pergi
Kawan baru ku datang kembali
Berbuat dosa bersamaku
Meski aku tak mau
Apa daya ku?
Hanya setumpuk kartu
Tugasku tuk diam membisu
Selama kawan-kawanku
Berbagi dengan ku
Bertumpuk dosa dari jalannya waktu
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.09 out of 5)
Modal wajah kuat matang
Jalan gagah kumpul pandang
Tegap rapi dari rambut sampai ujung kaki
Emang ujung kaki gak keliatan sih
Tapi yang penting rapi
Itu modal untuk berburu hati
Eh hati bukan sembarang hati
Tapi milik bidadari
Kalo mau tinggal nyari

Buka gudang tempat parkiran
Motor gede sudah jadi keharusan
Greng suara lantang
Mana tahan cewek pasti langsung sayang
Jaket kulit bumbu parfum
Biar panas jalan waktu siang
Jangan salah keringat itu menantang
Bila nanti cewek datang
Bukan lancang pasti terangsang

Dunia sempit dengan laju ini
Sisi lain dunia sang bidadari menanti
Cantik pasti sexy nanti dulu
Sebuah status yang menampang
Itulah yang terpenting
Tak mau indah bagai gunung krakatau
Kalau sudah pecah lubang kawah
Masa depan jadi susah
Milik siapa jatuhnya buah
Malas sudah bertanya-tanya

Tapi kini biar kini
Jalan di depan biar dinikmati
Sang bidadari adalah milik diri
Sang brondong kualitas tinggi
Benar sang bijak waktu tak tahan lagi
Mana tahan bila ia tak digubris lagi
Nilai kebebasan dirasa tinggi
Tambah mateng buah menjadi
Perbandingan waktu mah masalah nanti
Berpeluk sudah mereka di atas tenaga kuda
Dengan suara lantang
Menantang gelap malam bintang
Melaju pada suatu kemenangan
Sungguh anak muda zaman sekarang
Mana tahu apa yang ada di layar belakang
Biarlah yang penting senang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar